Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan pondok yang terkenal karena membangun sistem bilingual[1] (Arab dan Inggris) dalam kehidupan santri-santrinya. Sistem bilingual di Pondok modern gontor diterapkan dalam seluruh aspek aktivitas santri mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Hal tersebut tidak lain bertujuan agar santri-santri terbiasa menggunakan bahasa arab dan inggris, karena harapannya dengan kedua bahasa tersebut para santri dapat membuka pintu pengetahuan barat dan timur yang hanya bisa dibuka jikalau seseorang memegang kuncinya, yaitu bahasa.

            Sebagaimana bunyi salah satu falsafah PMDG[2] “Gontor tidak memberi ikan, tetapi memberi kail”, Gontor memberikan bekal bagi para santrinya agar bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya dimasa depan. Gontor selain memberikan bahasa sebagai kail bagi ilmu pengetahuan juga memberikan latihan-latihan yang keras untuk membentuk etos dan sikap seorang penuntut ilmu. Kerja keras, tekun, detail, santun terhadap guru ialah hal-hal yang ditanamkan oleh PMDG agar menjadi kail yang kuat yang mampu menangkap ikan yang besar. Hal tersebut Dapat direpresentasikan oleh satu mahfudzat [3]yang dipelajari di Gontor,

أَخِي لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سأُنْبِيْكَ أَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانٍ : ذَكَاءٌ وحِرْصٌ واجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُجْبةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ.

Artinya: Saudaraku !! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya kepadamu dengan jelas ; Kecerdasan, Ketamakan (terhadadap ilmu), Kesungguhan, harta (biaya), Santun dengan guru dan waktu yang lama

            Dalam beberapa aspek pendidikan Gontor mengutamakan proses daripada hasil, juga dalam berbahasa, Gontor mengutamakan praktek daripada teori. Bahasa di gontor dikembalikan kepada fungsinya yang utama, yaitu sebagai alat komunikasi. Menurut Gontor bahasa adalah praktek terlepas daripada kaidah berbahasa yang benar, menguasai kaidah menurut Gontor bukanlah yang utama, yang utama ialah bagaima kita dapat mengaplikasikannya, terkait benar dan salahnya, kedepan dapat dipelajari dengan sendirinya. Kunci dalam berbahasa ialah berani, berani praktek, berani salah dan berani belajar yang benar dan meningkatkannya setiap waktu.

            Mengenai judul tulisan ini “sejarah penerapan dua bahasa di Pondok Modern Darussalam Gontor, penulis akan membawa kalian kembali ke zaman kolonial belanda. Pasca runtuhnya kekhalifahan Turki Usmani di tahun 1924, dunia islam mulai berguncang karena kehilangan pusat kepemimpinan, atau dengan kata lain islam memasuki fase vakumpower. Fase ini sesungguhnya merupakan fase yang berbahaya bagi islam dan dapat memicu perang saudara sesame ummat islam. mengatasi hal itu dibuatlah kongres untuk menengahi keadaan tersebut di Mekah. Kabar mengenai hal tersebut ternyata terdengar sampai ke telinga bangsa Indonesia. Maka digelarlah kongres khalifah di Indonesia untuk menentukan delegasi yang akan pergi ke Mekah untuk menghadiri Kongres Khalifah di Mekah.

            Kongres di Surabaya dihadiri oleh banyak tokoh ulama termasuk salah satu bakal calon pendiri Gontor KH. Imam Zarkasy. Pada kesempatan itu beliau hadir untuk mengetahui siapa yang menjadi delegasi dalam kongres khalifah di Mekah. Singkat cerita terpilih lah dua orang perwakilan dari Indonesia, beliau adalah H.O.S. Tjokroaminoto dan KH Mas Mansur.

On one june 1926, Tjokroaminoto represented the Islamic Union Party and Mas Mansur from Muhammadiyah organization, being sent to attend  the congress of Islam Caliphate in Mecca, Saudi Arabia. They departed on March 1926 from Surabaya.[4]


B.A. Saleh, Seri Pahlawan Nasional : H.O.S. Tjokroaminoto, CV. Citra Praya, Bandung, 2007, hal.61

Adapun alasan pengiriman dua delegasi tersebut ialah karena kapabilitas kepemimpinan beliau berdua dan kepercayaan ummat tetapi kenapa harus dua orang, ternyata karena tidak ada dari keduanya yang bisa menggunakan bahasa arab dan inggris sekaligus.

            Sepulang dari kongres Surabaya itulah KH Imam Zarkasy terinspirasi untuk membuat lembaga yang bisa menjadikan anak didiknya menguasai dua bahasa, yaitu bahasa arab dan Inggris. Maka diputuskanlah untuk menerapkan wajib dua bahasa dalam lingkungan pondok pesantren modern Darussalam Gontor.


[1] KBBI : Biasa memakai dua bahasa dengan baik.

[2] Singkatan dari Pondok Modern Darussalam Gontor.

[3]“Kata Mutiara”, merupakan salah satu mata pelajaran di PMDG, diajarkan sekali setiap minggu.

[4] B.A. Saleh, Seri Pahlawan Nasional : H.O.S. Tjokroaminoto, CV. Citra Praya, Bandung, 2007, hal.61

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *